Ungkapan pikiran, renungan dan kegelisahan seorang manusia yang lahir di sebuah negeri setengah dongeng.

Belakangan ini ada trend baru di kalangan teman-teman yang penyedia file gratisan (ebook, lagu, video, dll.). Kalau dulu mereka menyimpan atau mengunggah (upload) file di tempat lain (rapidshare, eSnips, dll.), kini banyak yang memindahkan file milik mereka ke ziddu (www.ziddu.com). Apa pasal?

Ternyata banyak yang tertarik dengan iming-iming dollar, meski jumlahnya relatif kecil. Untuk setiap file di ziddu yang didownload oleh orang lain, sang pemilik file akan menerima USD 0,01 (kalau nggak salah). Tak heran jika banyak orang yang berbondong-bondong menyimpan file mereka di situs ini. Perhitungannya, barangkali, meski mereka tidak mengkomersialkan alias menggratiskan file yang mereka simpan di ziddu, tetapi mereka tetap mendapatkan uang.

Sayangnya, men-download file di ziddu sangat tidak nyaman. Paling tidak itu kesan yang saya dapatkan ketika beberapa kali ‘terpaksa’ harus men-download di sana. Iklannya sangat banyak, dan sebagian besar berupa banner image (gambar) statis dan animasi, sehingga loading halaman demi halaman menjadi sangat lambat. Padahal untuk mendownload satu file saja kita dipaksa untuk membuka beberapa halaman. Ini membuat saya malas.

Tapi jika sekedar mencoba, atau jika Anda memang tahan dengan segala ketidaknyamanan itu, ya nggak masalah. Silakan download di sana. Namun jika Anda seperti saya, lebih baik cari alternatif situs lain yang lebih nyaman dan menyenangkan.

September 20th, 2008 at 4:29 pm and tagged  | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Berbahagialah mereka yang memiliki segalanya di dunia ini: pribadi yang mapan, keluarga yang utuh, dan negara dengan konsep yang jelas. Pribadi yang mapan jelas penting demi kelangsungan hidup secara individu. Ini adalah modal untuk meniti tahap berikutnya: keluarga yang utuh. Lalu kenapa harus ada negara dengan konsep yang jelas? Ini erat kaitannya dengan kelangsungan nasib anak cucu kita di kemudian hari.

Masa depan harus dipersiapkan dan tidak bisa mengandalkan konsep ‘gimana nanti’. Harus jelas, bahkan jika memungkinkan harus sampai pada ‘titik koma’. Apalagi jika itu menyangkut masa depan sebuah negara. Konsep yang dibuat tentu harus jauh lebih baik dari sekedar konsep untuk individu. Peraturan, undang-undang dan kebijakan, semuanya harus bermuara pada sebuah konsep yang benar, pasti dan terarah. Dengan demikian, tidak akan terjadi keputusan atau kebijakan pemerintah yang ‘sabulang bentor’ alias ‘ngawur’ dan terkesan tanpa arah yang jelas.

Reformasi menghembuskan sesuatu yang baru dan dielu-elukan semua orang: demokratisasi yang lebih baik. Di sisi lain, ada kecenderungan untuk ‘menajiskan’ apa pun yang berasal dari masa lalu, terlepas dari apakah hal itu baik atau buruk. Pokoknya, tak ada tempat untuk masa lalu! Padahal, sikap seperti itu tentu saja sangat tidak konstruktif dan kekanak-kanakan. Sejarah, masa lalu, adalah ibarat cermin tempat kita mengevaluasi diri sekaligus belajar. Yang buruk kita buang, yang baiknya kita contoh.

Saya ingat waktu di SD dulu, pernah belajar apa yang disebut Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Dengan konsep seperti ini, maka pencapaian kinerja pemerintah (minimal secara teori) bisa diukur. Ada prioritas dan sasaran utama dalam setiap Repelita. Namun sayangnya, selepas tahun 1998 konsep itu tidak dipakai lagi karena dianggap ‘warisan Orde Baru’. Padahal ini bukan soal orde baru, orde reformasi, atau orde peduli setan sekali pun, ini adalah soal memilih mana yang baik dan mana yang bermanfaat.

Lihatlah apa yang terjadi sekarang ini. Pemerintahan saat ini seperti kebingungan dan tidak tahu hendak melangkah ke mana. Banyak kebijakan yang seolah-olah diambil secara terburu-buru tanpa memikirkan akibat yang mungkin timbul. Selain itu, campur tangan asing (dalam hal ini Amerika) sangat terasa dalam berbagai kebijakan pemerintah. Kita menjadi bangsa kelas pembokat, yang nasibnya ditentukan oleh ‘majikan’-nya. Privatisasi BUMN yang membahayakan stabilitas, integritas dan kedaulatan kita sebagai bangsa dan negara, kita amini tanpa pikir panjang. Dan ini adalah jelas-jelas konsep yang dijejalkan Amerika, demi kepentingan mereka sendiri.

Lalu, sampai kapan kondisi seperti ini akan berlangsung? Kita tidak tahu. Jika bernasib baik, mungkin sampai muncul kesadaran dari para pemimpin untuk benar-benar membuat rakyat Indonesia sejahtera. Atau kemungkinan buruknya: sampai negara ini benar-benar bangkrut digerogoti dari dalam dan dari luar. Mungkin sampai harga diri kita sebagai bangsa habis, tandas, tak tersisa. Mungkin.

September 20th, 2008 at 3:15 pm and tagged ,  | Comments & Trackbacks (0) | Permalink
Kaget, ngeri, sedih, marah. Itu yang terasa ketika mendengar 21 saudara kita di Pasuruan meninggal gara-gara mengantri pembagian zakat senilai 30 ribu rupiah. Orang miskin memang selalu tidak punya pilihan, sekaligus selalu berada dalam posisi yang riskan. Demi uang yang jumlahnya ‘tidak seberapa’ menurut ukuran kita, mereka rela menyabung nyawa karena memang tidak ada pilihan lain. Berdesakan di antara jejalan ribuan orang, kehabisan oksigen, terinjak-injak, adalah resiko yang mau tidak mau harus mereka hadapi, demi mendapatkan uang yang di mata mereka sangat berarti. Bayangkan, semua itu terjadi di tengah terik matahari, di saat sebagian besar dari ribuan pengantri tersebut sedang menjalankan ibadah puasa.

 

Yang mengenaskan, ada kesan saling lempar tanggung jawab atas insiden mengerikan tersebut. Pengusaha yang membagi-bagikan zakat berkilah bahwa pembagian zakat seperti itu telah berlangsung sejak tahun 1975 dan baru kali ini ada kejadian orang meninggal. Pihak berwenang yang tidak tampak batang hidungnya pada saat insiden terjadi beralasan bahwa pihak penyelenggara pembagian zakat tidak berkoordinasi dengan mereka.

 

Padahal, jika mau berpikir logis dan rasional, semua pihak seharusnya melakukan persiapan yang matang, mengingat kegiatan pembagian zakat ini melibatkan konsentrasi massa dalam jumlah besar. Pihak penyelenggara seharusnya mengajukan permohonan izin keramaian kepada pihak kepolisian setempat. Selain itu juga mempersiapkan panitia dalam jumlah yang mencukupi, jangan sampai ketika terjadi insiden malah menyuruh orang yang mengantri untuk untuk mengantar pasien yang terinjak-injak ke rumah sakit menggunakan becak!

 

Sementara itu, pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, juga harus proaktif. Meski penyelenggara tidak mengajukan izin, mereka seharusnya mengingatkan penyelenggara untuk mentaati peraturan. Kalau perlu, bubarkan saja penyelenggaraan kegiatan tanpa izin, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai, karena alasan bahwa pihak penyelenggara tidak mengajukan izin, kepolisian tidak mau tahu. Masa sih, konsentrasi massa berkapasitas ribuan luput dari perhatian kepolisian. Sangat tidak etis dan bahkan biadab, ketika sudah terjadi insiden, semua pihak seolah-olah cuci tangan, tidak mau bertanggung jawab.

 

Kalau mau lebih aman, ada baiknya mereka yang mau menyalurkan zakat, infaq, sodaqoh, dll., meminta bantuan lembaga-lembaga penyalur zakat yang  manajemennya lebih profesional. Sekarang banyak kok lembaga penyalur zakat swasta yang kredibel dan bisa dipercaya, disamping BAZNAS milik negara. Berbagi adalah tindakan mulia. Tetapi jangan sampai tujuan yang indah tersebut harus memakan korban, yang sebetulnya bisa dihindari jika pelaksanaannya dilakukan secara profesional.

 

Atau, jangan-jangan memang sudah tidak ada lagi yang peduli dengan orang miskin di negeri ini. Jangan-jangan sinyalemen bahwa orang miskin hanya menjadi objek bagi kepentingan-kepentingan tertentu memang benar adanya. Jika memang demikian, maka Indonesia pantas menangis.

September 20th, 2008 at 3:13 pm and tagged ,  | Comments & Trackbacks (0) | Permalink
Di internet marak beredar apa yang disebut “kartu lebaran”. Kita tentu membayangkan bahwa kita mengirim kartu, dan orang yang dikirim menerimanya secara pribadi. Namun apa yang terjadi adalah orang yang dikirim hanya mendapatkan link tempat kartu itu berada di suatu tempat, dan dia harus meng-klik link tersebut untuk melihatnya.
 
Buat saya, hal itu sangat tidak praktis, sekaligus -maaf- kurang sopan. Ngerjainnya itu lho. Makanya saya bikin desain kartu yang benar-benar bisa dikirim via email, file-nya kecil, dan yang menerima kiriman benar-benar bisa memiliki sekaligus menyimpannya di komputer miliknya. Selain itu, kartu lebaran ini bisa digunakan selamanya alias abadi.
 
Ada 5 desain cantik yang saya persembahkan untuk Anda, dilengkapi dengan backsound musik bernuansa timur tengah (arabian). Uniknya, Anda bisa menyesuaikan nama dan ucapannya menurut selera Anda. Ini yang membuat kartu lebaran ini lebih personal. Ada nama Anda, ada nama orang yang dikirim, serta ucapan lebaran yang sangat khas gaya Anda. Ini memungkinkan dengan adanya lbr-brander, yakni software sederhana untuk melakukan kustomisasi pada kartu semau Anda.
 
Agar lebih jelas, Anda bisa men-download sample yang saya sertakan terlebih dahulu.
 
Note: file lebaran-C terdiri dari 3 kartu
 
September 11th, 2008 at 12:46 am and tagged , ,  | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Selain agak ribet, juga banyak hal yang membuat aku jarang posting di sini. Kabar baiknya (minimal buatku sendiri) baru saja selesai menerjemahkan buku untuk sebuah penerbit yang lumayan besar.

Tiga bulan dikejar-kejar deadline, rodi, tapi begitu selesai, legaaa… Semua gangguan, termasuk penyakit yang menjadi-jadi selama masa 3 bulan, langsung ilang!

Saatnya menikmati kenyamanan, sambil mikir, nyari duit di mana lagi ya?

Ah, hidup memang lingkaran setan!

December 4th, 2007 at 7:21 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun,

Telah berpulang ke Rahmatullah, ayahanda  Rahmat Kurniawan pada hari senin tanggal 11 September 2006 pukul 02.00 di Bandung.

Semoga iman dan islamnya diterima Allah Swt & keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.

Tata, keluarga, dan keluarga besar HIMASID 90

September 10th, 2006 at 10:07 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Tak terasa ya? Sudah hampir Ramadhan lagi. Coba lihat di kalender, tinggal berapa hari lagi?

Yang langsung kepikiran menjelang Ramadhan biasanya kolak, makanan yang manis-manis, dan baju Lebaran. Ayoo..bener nggak? Ngaku aja…:-)

Belum apa-apa, biasanya kita sudah jalan-jalan ke mall, toko, atau apa pun namanya, buat ngintip, kira-kira baju mana ya yang pas buat Lebaran tahun ini? Sepatunya juga. Yang lain-lainnya juga. Kan kata pak Ustadz juga, di hari Raya Iedul Fitri, semua menjdi manusia-manusia baru. Masa sih manusia baru, kok nggak pake baju baru…:-)

Hidup memang membuat kita betah, bahkan kadang-kadang lupa diri. Apalagi jika kita menjalani kehidupan yang nyaman dan menyenangkan menurut ukuran manusia. Banyak uang, kerja mapan, punya keluarga lengkap dsb. Bahkan sebenarnya, se-sengsara apa pun hidup kita, kalau boleh memilih, rasanya kebanyakan tetap akan memilih hidup lama dan berumur panjang.

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Berumur panjang akan merupakan anugerah jika digunakan untuk melakukan hal-hal yang baik. Namun, hati-hati, karena ini akan menjadi bencana ketika sebagian besar hidup kita digunakan untuk hal-hal yang tidak disukai Tuhan.

Dan betapa baiknya Tuhan, karena sejahat apa pun manusia, selalu saja diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, menghapus dosa, sepanjang kita masih bisa bernapas. Ampunan, rahmat, pahala tetap disediakan bagi siapa pun, selama kita mau memperbaiki diri.

Salah satu kesempatan besar yang ditawarkan Tuhan adalah bulan Ramadhan ini. Jika toko-toko berlomba-lomba menggelar cuci gudang, big sale, dll., maka selama sebulan penuh setiap tahun, Tuhan menggelar semacam The Greatest Big Sale in The World yang pasti membuat orang ngiler, jika saja semua tahu kebaikan-kebaikan dan kelebihan bulan Ramadhan, yang hingga kini belum - dan tidak akan pernah - ada tandingannya. Segala macam big sale di toko-toko itu jadi nggak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan big sale versi Tuhan.

Pahala untuk amal baik yang nilainya ratusan kali lipat dibanding bulan-bulan lainnya, sungguh akan membuat kita jadi sangat kaya secara spiritual, jika saja kita bisa memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya. Ada kesempatan besar untuk mendapatkan ampunan atas dosa -dosa yang kita lakukan. Dan masih banyak lagi kehebatan-kehebatan lainnya yang hanya bisa diperoleh di bulan yang sangat istimewa ini.

Secara ruhani(spiritual) kita akan menjadi terlatih untuk mengendalikan diri, sekaligus menjadi lebih dekat dengan Yang Maha Menciptakan Kita. Belum lagi keuntungan yang akan kita peroleh secara fisik. Dengan puasa, tubuh punya kesempatan untuk memperbaiki sistem metabolismenya. Sudah banyak bukti bahwa puasa yang dilakukan dengan benar, bahkan bisa menyembuhkan penyakit tertentu.

Dengan segudang kelebihan bulan Ramadhan ini, aneh rasanya jika kita melewatkannya begitu saja. Kesempatan besar yang datangnya hanya setahun sekali ini sayang sekali bila disia-siakan. Jadi, mumpung masih ada beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, alangkah baiknya jika kita mempersiapkan diri menyambutnya. Bertanya kepada orang yang ngerti tentang cara-cara terbaik memanfaatkan setiap detik istimewa di bulan Ramadhan, misalnya. Juga  mempersiapkan fisik kita, agar nanti puasa kita tidak kedodoran. Jangan cuma nyiapin buat Lebaran aja yang dipikirin :-)

Ayo, ayo..! The Ramadhan’s Greatest Big Sale! Siapa mau?!

SundaBlog


Technocrati Tags: , , ,
September 10th, 2006 at 10:03 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Sebetulnya sih di kepala saya hanya ada dua jenis negeri, yakni negeri dongeng dan negeri kenyataan. Tapi entah kenapa, belakangan ini saya cenderung ingin menambahkan satu kategori lagi, negeri setengah dongeng.

Kita, tentu saja secara de facto tinggal di sebuah negeri yang nyata senyata-nyatanya. Ada rakyatnya, ada pemimpinnya, ada segala macamnya, yang merupakan syarat hadirnya sebuah negara. Tapi jujur saja, meski kita ada di sebuah negeri nyata, seringkali kita disuguhi kenyataan-kenyataan yang - kalau bukan keajaiban - seyogianya hanya ada di negeri dongeng.

Lihat saja, ketika di UUD 45 dikatakan bahwa orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, kenyataannya kita melihat banyak sekali orang miskin dan anak-anak terlantar yang hidup di jalanan. Kalau tidak salah, menurut data statistik, Indonesia memiliki 40 juta warga miskin dari sekitar 200-an juta jumlah penduduk. Jangan lupa, ini data statistik, yang kenyataannya bisa saja jauh lebih besar dari angka itu. Bukankah ini sebuah keajaiban yang sepatutnya hanya ada di negeri dongeng?

Atau coba perhatikan betapa di Indonesia banyak sekali orang-orang sakti yang kebal hukum. Jawara koruptor paling ‘kahot’ di Indonesia, hingga saat ini tidak pernah tersentuh hukum, meski dosanya mungkin menggunung. Dan orang sakti, seharusnya hanya ada di negeri dongeng.

Bahwa negara berkewajiban menyediakan pendidikan bagi semua warganya, semua sudah tahu. Tapi siapa pula yang tidak mafhum bahwa biaya pendidikan begitu mahal dan malah SEMAKIN MAHAL dari hari ke hari? Sekolah saat ini menjadi MIMPI YANG TAK TERBELI dalam bahasa Iwan Fals. Rasanya bagi kebanyakan warga Indonesia, mimpi untuk sekolah saja sudah tidak berani.

Jadi, salahkah saya kalau seringkali merasa hidup di dua dunia: dunia nyata dan dunia dongeng?

Mungkin kalau suatu saat saya ada rezeki pergi ke luar negeri, kemudian ditanya asal negara, rasanya cukup gagah kalau saya menjawab: "Saya dari Negeri Setengah Dongeng.." Dan saya biarkan si penanya bingung, sebingung saya yang sekian lama mencari-cari nikmatnya tinggal di negeri sendiri.

Maafkan saya, hingga kini belum ketemu!

September 8th, 2006 at 1:59 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Baby Temanku ini –saya katakan saja begitu, karena selama ini arti ‘teman’ sering dipersempit dengan mengartikannya hanya untuk mereka yang pendidikannya sama, tingkat kemakmurannya sama, dll– adalah seorang tukang sampah. Namanya Mang Ihin. Jelas dia bukan bekas gubernur Jawa Barat yang juga suka dipanggil Mang Ihin.

Sejak tahun 80-an dia sudah jadi tukang sampah. Sampai sekarang juga masih begitu. Perawakannya kecil, pendek, kulitnya hitam, wajahnya agak mirip Ellyas Pical, petinju Indonesia tahun 80-an. Murah senyum, dan yang bikin aku angkat jempol, rajin.

Dulu, ketika aku masih rajin lari pagi, sering ketemu. Dia nyapu di kawasan tempat wisata, aku lari pagi. Dia terbiasa melakukan ritual bersih-bersih sampahnya sejak jam lima pagi. Dan itu dilakukannya tiap hari. Nggak ada libur, nggak ada cuti. Bener-bener tiap hari.

"Cape Mang?", tanyaku suatu kali.
"Kerja itu dimana-mana juga nggak ada yang nggak cape.. Lagian kalau nyapunya pagi-pagi gini kan sehat..dapet uang lagi."

Jawaban seperti ini kadang-kadang membuatku tercengang. Sederhana, namun jika diselami terasa seakan-akan menyindir. Mang Ihin tentu tidak sedikitpun bermaksud menyindir. Ia cuma mengatakan apa adanya, dan..benar. Kita kadang-kadang terlalu sibuk mengeluh, sehingga seringkali tidak sempat untuk bersyukur. Kerjaan numpuk, ngeluh. Nggak ada kerjaan jadi suntuk, ujung-ujungnya ya ngeluh juga. Padahal, kerja sambil ngeluh justru akan lebih cape, karena energi untuk melakukan pekerjaan harus dibagi dengan energi untuk mengeluh. Artinya energi yang dikeluarkan akan lebih besar dibanding jika kita melakukan pekerjaan tanpa mengeluh.

Yang membuatku kagum, hingga sekarang ia masih setia menekuni pekerjaan yang dimulainya sekitar 20 tahun yang lalu. Kerja, kerja, dan kerja. Itu saja. Dia tak peduli orang lain kadang-kadang menganggap pekerjaannya itu kelas rendahan. Dia nggak protes karena nggak ada libur, nggak ada tunjangan kesehatan, nggak ada asuransi dll. Bahkan kemungkinan besar dia sama sekali nggak tahu apa itu asuransi. Yang dia tahu hanyalah melakukan tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya.

Ketekunan itu membuahkan hasil. Dulu ia cuma bertugas membersihkan tempat parkir di kawasan wisata. Sekarang, ditambah dengan tugas mengangkut sampah-sampah dari pasar ke tempat pembuangan. Perubahan yang sederhana di mata orang lain. Tapi buat Mang Ihin, ini merupakan sebuah penghargaan atas profesionalismenya sebagai tukang sampah selama ini. Dan itu disyukurinya.

Ternyata bersikap profesional tidak selalu harus didahului dengan membaca buku-buku tentang profesionalisme. Di mata saya, Mang Ihin adalah seseorang yang menjadi profesional tanpa perlu memahami istilah profesionalisme itu sendiri.

September 5th, 2006 at 8:15 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink
Dua orang sedang terlibat obrolan. Satu orang Eropa dan satunya, sudah tentu orang Indonesia. Orang Indonesia bertanya pada orang Eropa, "Berapa gajimu dan untuk apa saja uang sejumlah itu?"

Orang Eropa menjawab, "Gaji saya 3.000 Euro, 1.000 euro untuk tempat tinggal, 1.000 Euro untuk makan, 500 Euro untuk hiburan."
"Lalu sisa 500 Euro untuk apa?" tanya orang Indonesia. Orang Eropa menjawab dengan ketus, "Oh … itu urusan saya, Anda tidak berhak bertanya!"

Kemudian orang Eropa berbalik bertanya. "Kalau Anda bagaimana?"

"Gaji saya Rp 950 ribu, Rp 450 ribu untuk tempat tinggal, Rp 350 ribu untuk makan, Rp 250 ribu untuk transport, Rp 200 ribu untuk sekolah anak, Rp 200 ribu untuk bayar cicilan pinjaman, … Rp 100 ribu untuk…."

Penjelasan orang Indonesia terhenti karena orang Eropa menyetop penjelasan itu dan langsung bertanya. "Uang itu jumlahnya sudah melampui gaji Anda. Sisanya dari mana?" kata orang Eropa itu keheranan.

Apa jawab orang Indonesia?

Dengan entengnya dia manjelaskan, "Begini Mister, tentang uang yang kurang, itu urusan saya, Anda tidak berhak nanya-nanya!!"

Technocrati Tags: , , , ,
SundaBlog
September 5th, 2006 at 5:18 pm | Comments & Trackbacks (1) | Permalink