Yang mengenaskan, ada kesan saling lempar tanggung jawab atas insiden mengerikan tersebut. Pengusaha yang membagi-bagikan zakat berkilah bahwa pembagian zakat seperti itu telah berlangsung sejak tahun 1975 dan baru kali ini ada kejadian orang meninggal. Pihak berwenang yang tidak tampak batang hidungnya pada saat insiden terjadi beralasan bahwa pihak penyelenggara pembagian zakat tidak berkoordinasi dengan mereka.
Padahal, jika mau berpikir logis dan rasional, semua pihak seharusnya melakukan persiapan yang matang, mengingat kegiatan pembagian zakat ini melibatkan konsentrasi massa dalam jumlah besar. Pihak penyelenggara seharusnya mengajukan permohonan izin keramaian kepada pihak kepolisian setempat. Selain itu juga mempersiapkan panitia dalam jumlah yang mencukupi, jangan sampai ketika terjadi insiden malah menyuruh orang yang mengantri untuk untuk mengantar pasien yang terinjak-injak ke rumah sakit menggunakan becak!
Sementara itu, pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, juga harus proaktif. Meski penyelenggara tidak mengajukan izin, mereka seharusnya mengingatkan penyelenggara untuk mentaati peraturan. Kalau perlu, bubarkan saja penyelenggaraan kegiatan tanpa izin, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai, karena alasan bahwa pihak penyelenggara tidak mengajukan izin, kepolisian tidak mau tahu. Masa sih, konsentrasi massa berkapasitas ribuan luput dari perhatian kepolisian. Sangat tidak etis dan bahkan biadab, ketika sudah terjadi insiden, semua pihak seolah-olah cuci tangan, tidak mau bertanggung jawab.
Kalau mau lebih aman, ada baiknya mereka yang mau menyalurkan zakat, infaq, sodaqoh, dll., meminta bantuan lembaga-lembaga penyalur zakat yang manajemennya lebih profesional. Sekarang banyak kok lembaga penyalur zakat swasta yang kredibel dan bisa dipercaya, disamping BAZNAS milik negara. Berbagi adalah tindakan mulia. Tetapi jangan sampai tujuan yang indah tersebut harus memakan korban, yang sebetulnya bisa dihindari jika pelaksanaannya dilakukan secara profesional.
Atau, jangan-jangan memang sudah tidak ada lagi yang peduli dengan orang miskin di negeri ini. Jangan-jangan sinyalemen bahwa orang miskin hanya menjadi objek bagi kepentingan-kepentingan tertentu memang benar adanya. Jika memang demikian, maka Indonesia pantas menangis.